Peristiwa
Kisah 'Kacang Unting' Desa Olehsari yang Dijual Hingga ke Bali
04-08-2017 - 08:00 | Views: 18.04k
Ibu-ibu Desa Olehsari \
Ibu-ibu Desa Olehsari \'mbibiti\' atau membersihkan kacang untuk \'diuntingi\', direbus dan dijual. (Foto: Ahmad Suudi/TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, BANYUWANGI – Selama ini Desa Olehsari di Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur hanya dikenal sebagai desa dengan kegiatan adat Seblang Olehsari yang digelar hari ke-6 Perayaan Idul Fitri. Ternyata desa yang dilewati jalur jalan menuju Gunung Ijen itu memiliki potensi ekonomi lain yang unik dan tidak dimiliki desa-desa lain di Banyuwangi, Kacang Untingan.

Bila berjalan kaki mengelilingi desa seluas 3,59 km persegi itu, akan mudah sekali menemukan ibu-ibu berkumpul di teras rumah sambil 'mbibiti' atau membersihkan kacang tanah yang masih tergantung di batangnya.

Lepas satu rumah, selang beberapa rumah akan kita temukan lagi kelompok ibu-ibu membersihkan, membentuk ikatan atau 'unting' 15 kacang utuh dengan kulitnya, dan mencucinya sebelum direbus.

Kacang-Unting-2ZB4VO.jpg

Biasanya mereka merupakan satu keluarga besar, saudara pengusaha yang dibayar untuk membersihkan dan mengikat kacang, dengan upah Rp 4.000 per 100 unting kacang yang didapat. Biasanya dalam sehari, mereka mampu membersihkan dan mengikat 250 unting kacang dalam satu hari, bahkan lebih menjelang lebarang atau jelang hari-hari besar nasional.

Misalnya pasangan Amad dan Siti yang menceritakan, dalam satu kali rebusan mereka memasukkan 300 unting kacang dalam 1 panci besar ditambah 1 kilogram garam, di atas tungku kayu. Kayu 1 kubik mereka beli dengan harga Rp 60 ribu yang mampu digunakan untuk memasak sebanyak 5 kali.

"Dulu garam Rp 2.500 harganya per kilogram, sekarang sedang naik harganya Rp 7.500 per kilogram," kata Siti kepada TIMES Indonesia, Kamis (03/8/2017).

Suaminya, Amad, akan membawa kacang unting rebus pagi buta ke Bali setiap hari dengan naik bus umum. Bisa saja Amad berjualan di Banyuwangi, bisa di Kabupaten Jembrana di Bali barat yang dekat dengan Banyuwangi, atau berjualan terus jauh ke selatan hingga Denpasar, bisa juga Amad membawa 300 unting kacang, atau 500 unting kacang, semua tergantung dimana dan bagaimana ada acara besar yang menjadi pusat keramaian.

"Kalau di Banyuwangi ada acara yang ramai ya jualan di Banyuwangi saja, tidak ke Bali," kata Amad.

Sama halnya dengan Supriyadi yang setiap hari berjualan kacang seharag Rp 1000 per unting itu, di Bali dengan alat pikulnya yang biasa disebut 'cingkek'. Setelah sampai di Bali dia berjalan kaki di jalan-jalan kampung menjajakan dagangannya, tak hanya kacang, tetapi juga tahu goreng dan telur puyuh. Tak jarang dagangannya diborong orang dengan harga yang lebih murah untuk dijual kembali.

Upri, sapaan Supriyadi, biasa sampai rumah pukul 19.00 WIB sedang istrinya, Suidah, telah selesai juga merebus kacang-kacang yang akan dijual esok hari. Tidak hanya mengandalakan hasil panen ladang kacang desa setempat, Upri dan ratusan pengusaha kacang itu juga membeli kacang tanah dari ladang-ladang desa lain seperti Desa Grogol di Kecamatan Giri dan Desa Pendarungan di Kecamatan Kabat.

Sayangnya jual beli kacang bahan baku dilakukan dengan sistim tebas yang berarti menentukan harga dari perkiraan dan kesepakatan bersama tanpa menggunakan satuan timbangan atau satuan luasan ladang. Dengan itu kedua belah pihak bisa saja mengalami kerugian karena salahnya perkiraan, misalnya Upri yang pernah merugi jutaan rupiah karena setelah dianggap bagus, kacang-kacang di dalam tanah ternyata rusak.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis tahun 2016, luas Desa Olehsari mencapai 3,59 kilometer persegi dengan ladang kacang seluas 9 hektare. Hasilnya dipanen 12 ton kacang tanah dalam satu tahun, yang berarti 75 persen dari hasil pertanian palawija berbagai jenis di desa itu.

Hal itu yang akhirnya mendorong pemuda setempat menggelar Gebyar Kacang Unting Luliyan, Minggu (30/7/2017) lalu. Dalam acara itu, diharapkan masyarakat bisa mengolah potensi kacang itu dalam bentuk produk lain sehingga semakin bernilai dan lebih menyejahterakan masyarakat. (*)

Pewarta
: Ahmad Su'udi
Editor
: Wahyu Nurdiyanto
Publisher
: Rizal Dani
Sumber
: